
Uang Rp5 juta didiamkan di rekening tabungan biasa selama setahun — hasilnya berapa? Nyaris tidak terasa, bahkan bisa kalah dari inflasi yang per Februari 2026 sudah menyentuh 4,76% secara tahunan menurut data BPS. Pertanyaannya sederhana: mau simpan di deposito yang aman, atau coba investasi yang potensinya lebih besar?
Banyak orang masih bingung membedakan deposito dan investasi, bahkan menganggap keduanya hal yang sama. Padahal, keputusan salah pilih instrumen bisa berdampak langsung ke keuangan jangka panjang. Melalui investlampung.id, panduan ini akan membedah tuntas perbedaan keduanya — lengkap dengan simulasi keuntungan, data bunga terbaru Maret 2026, dan rekomendasi aplikasi yang sudah terdaftar di OJK.
Catatan: beberapa tautan dalam artikel ini merupakan tautan afiliasi dari mitra resmi. Harga dan layanan yang diterima tetap sama, tanpa biaya tambahan.
Nah, sebelum memutuskan mau taruh uang di mana, ada baiknya pahami dulu fondasi dasarnya. Artikel ini disusun berdasarkan data resmi dari Bank Indonesia, OJK, dan BPS agar setiap informasi bisa dipertanggungjawabkan.
Memahami Deposito dan Investasi dari Nol
Sebelum masuk ke perbandingan dan simulasi, penting untuk memahami definisi masing-masing instrumen secara benar. Banyak miskonsepsi yang beredar — salah satunya anggapan bahwa deposito “bukan investasi.” Faktanya, deposito termasuk salah satu bentuk investasi, tapi dengan karakteristik yang sangat berbeda dari saham atau reksadana.
Pengertian Deposito Menurut Regulasi Perbankan
Deposito adalah produk simpanan di bank yang penarikannya hanya bisa dilakukan pada jangka waktu tertentu (tenor) sesuai perjanjian. Berdasarkan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan, deposito termasuk dalam kategori simpanan berjangka yang memberikan bunga tetap kepada nasabah.
Simpanan deposito dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan batas maksimal Rp2 miliar per nasabah per bank, selama bunga yang diberikan tidak melebihi tingkat bunga penjaminan LPS. Per Februari 2026, tingkat bunga penjaminan LPS untuk bank umum berada di angka 3,50% per tahun.
“Tingkat bunga penjaminan ini berlaku hingga 31 Mei 2026 dan dapat berubah sesuai keputusan LPS berikutnya.”
Pengertian Investasi dalam Dunia Keuangan
Investasi secara umum adalah kegiatan menanamkan modal — baik berupa uang maupun aset — ke dalam instrumen tertentu dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa depan. Berbeda dengan deposito yang memberikan bunga tetap, instrumen investasi seperti saham, reksadana, obligasi, dan emas memiliki potensi imbal hasil yang lebih tinggi namun disertai risiko fluktuasi.
Sesuai regulasi OJK, setiap produk investasi yang ditawarkan kepada masyarakat wajib terdaftar dan diawasi oleh otoritas terkait. Untuk pasar modal (saham, reksadana, obligasi) di bawah pengawasan OJK, sedangkan aset kripto kini juga berada di bawah pengawasan OJK sejak perpindahan dari Bappebti di akhir 2024.
Perbedaan Deposito dan Investasi Secara Detail
Sekarang masuk ke inti pembahasan. Perbedaan deposito dan investasi bukan sekadar soal “aman vs berisiko,” tapi mencakup mekanisme, regulasi, hingga aspek perpajakan yang jarang dibahas.
Mekanisme dan Cara Kerja
Deposito bekerja dengan prinsip sederhana: dana ditempatkan di bank dalam tenor tertentu (1, 3, 6, atau 12 bulan), lalu bank memberikan bunga tetap yang dibayarkan sesuai kesepakatan — bisa bulanan atau saat jatuh tempo. Pencairan sebelum jatuh tempo biasanya dikenakan penalti sekitar 0,5–2% dari pokok.
Investasi bekerja berbeda tergantung instrumennya. Saham memberikan keuntungan dari selisih harga beli-jual (capital gain) dan dividen. Reksadana dikelola oleh manajer investasi yang mengalokasikan dana ke berbagai portofolio. Obligasi memberikan kupon tetap seperti deposito, tapi diperdagangkan di pasar sekunder. Emas mengikuti harga pasar global.
Risiko, Keamanan, dan Penjaminan
Deposito memiliki tingkat risiko paling rendah di antara semua instrumen keuangan. Dana dijamin LPS hingga Rp2 miliar, jadi meskipun bank bangkrut, uang tetap dikembalikan selama memenuhi syarat penjaminan.
Investasi memiliki spektrum risiko yang beragam:
- Reksadana pasar uang: Risiko rendah, cocok untuk pemula
- Obligasi/SBN ritel: Risiko rendah-menengah, dijamin negara
- Reksadana campuran/pendapatan tetap: Risiko menengah
- Saham blue chip: Risiko menengah-tinggi, potensi return besar
- Saham gorengan dan crypto: Risiko tinggi, bisa untung besar atau rugi total
Pajak dan Biaya Tersembunyi
Nah, ini yang sering luput dari perhatian. Masing-masing instrumen punya beban pajak yang berbeda, dan ini langsung memengaruhi keuntungan bersih yang diterima.
| Instrumen | Jenis Pajak | Tarif | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Deposito | PPh Final | 20% | Dipotong otomatis dari bunga |
| Reksadana | — | 0% | Bebas pajak penghasilan |
| Saham | PPh Final | 0,1% | Dari nilai transaksi jual |
| Obligasi/SBN | PPh Final | 10% | Dari kupon/bunga obligasi |
| Emas | PPh 22 | 0,25–0,45% | Saat pembelian emas batangan |
| Crypto | PPh Final + PPN | 0,1% + 0,11% | PPh dari capital gain + PPN transaksi |
Perhatikan bahwa reksadana adalah satu-satunya instrumen yang bebas pajak penghasilan. Sementara deposito justru dikenakan pajak paling besar yaitu 20% dari bunga — ini yang membuat keuntungan bersih deposito sering kali lebih rendah dari yang dibayangkan.
Jenis-Jenis Instrumen Investasi Populer di 2026
Di tahun 2026, pilihan instrumen investasi semakin beragam dan mudah diakses lewat aplikasi. Berikut instrumen yang paling banyak diminati beserta karakteristiknya.
Reksadana
Reksadana adalah wadah yang menghimpun dana dari banyak investor untuk dikelola oleh manajer investasi profesional. Ada empat jenis utama:
- Reksadana Pasar Uang (RDPU): Diinvestasikan ke deposito dan obligasi jangka pendek, return 2025 rata-rata 4,37–4,6% per tahun. Cocok untuk pemula dan dana darurat.
- Reksadana Pendapatan Tetap: Mayoritas di obligasi, return 2025 sekitar 6,54%.
- Reksadana Campuran: Gabungan saham dan obligasi, risiko menengah.
- Reksadana Saham: Mayoritas di saham, return 2025 mencapai 20,84% — tapi fluktuasinya juga paling tinggi.
Saham
Saham adalah bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG sepanjang 2025 mencatatkan performa dinamis dengan 24 rekor baru, meskipun sempat mengalami dua kali trading halt.
Untuk pemula, saham blue chip yang tergabung dalam indeks LQ45 biasanya menjadi pilihan utama karena likuiditasnya tinggi dan fundamentalnya kuat. Return historis saham blue chip bervariasi antara 8–15% per tahun dalam jangka panjang.
Obligasi dan SBN Ritel
Surat Berharga Negara (SBN) ritel adalah instrumen utang yang diterbitkan pemerintah Indonesia untuk investor individu. Di awal 2026, pemerintah menerbitkan ORI029 dengan dua tenor:
- ORI029T3 (3 tahun): Kupon tetap 5,45% per tahun
- ORI029T6 (6 tahun): Kupon tetap 5,80% per tahun
Setelah pajak 10%, imbal hasil bersih ORI029T6 sekitar 5,22% per tahun — masih jauh di atas bunga bersih deposito bank BUMN. Dilansir dari djpb.kemenkeu.go.id, pemerintah menyiapkan 8 seri SBN ritel sepanjang 2026.
Emas Digital
Investasi emas semakin mudah lewat platform digital. Tidak perlu beli satu gram penuh — cukup mulai dari Rp10.000 sudah bisa memiliki emas digital. Per Maret 2026, harga emas Antam bergerak di kisaran Rp3.004.000 hingga Rp3.222.000 per gram.
Sepanjang 2025, emas mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan, menjadikannya safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Crypto (Aset Kripto Berizin)
Aset kripto kini resmi di bawah pengawasan OJK sejak transisi dari Bappebti. Per Desember 2025, OJK telah menerbitkan whitelist penyelenggara perdagangan aset kripto yang berizin dan terdaftar. Platform seperti Reku, Pintu, Indodax, dan Tokocrypto masuk dalam daftar resmi tersebut.
“Daftar exchange kripto berizin dapat berubah sesuai evaluasi berkala OJK. Selalu cek pembaruan di ojk.go.id sebelum bertransaksi.”
Crypto menawarkan potensi return tertinggi, tapi juga risiko tertinggi. Instrumen ini hanya cocok untuk profil risiko agresif dengan dana yang siap “hilang.”
Tabel Perbandingan Lengkap Semua Instrumen
Sebelum masuk ke simulasi, berikut ringkasan perbandingan menyeluruh semua instrumen yang sudah dibahas di atas.
| Aspek | Deposito | Reksadana | Saham | Obligasi/SBN | Emas | Crypto |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Risiko | Sangat Rendah | Rendah–Tinggi | Menengah–Tinggi | Rendah | Rendah–Menengah | Sangat Tinggi |
| Return per Tahun | 2,25–6% | 4–21% | 8–15%* | 5,45–5,80% | Fluktuatif | Sangat Fluktuatif |
| Pajak | 20% | 0% | 0,1% | 10% | 0,25–0,45% | 0,1% + 0,11% |
| Modal Awal | Rp1 juta–Rp8 juta | Rp10.000 | ~Rp100.000 | Rp1 juta | Rp10.000 | Rp10.000 |
| Likuiditas | Terbatas (tenor) | Tinggi (T+1 s.d T+7) | Tinggi (jam bursa) | Menengah | Tinggi | Sangat Tinggi (24/7) |
| Jaminan | LPS (Rp2 M) | Tidak | Tidak | Negara (SBN) | Tidak | Tidak |
*Return saham adalah estimasi historis jangka panjang untuk blue chip, bukan jaminan hasil di masa depan.
Tabel di atas menunjukkan bahwa tidak ada satu instrumen yang “paling sempurna.” Setiap instrumen punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung tujuan keuangan dan profil risiko.
Kenapa Simulasi Itu Penting Sebelum Memilih Instrumen?
Membaca teori saja tidak cukup. Angka-angka di tabel perbandingan terlihat sederhana, tapi dampaknya baru terasa ketika dihitung secara konkret. Banyak orang terkejut saat menyadari bahwa bunga deposito 3% per tahun — setelah dipotong pajak 20% — menghasilkan angka yang sangat kecil.
Simulasi juga membantu memahami efek pajak, inflasi, dan compounding terhadap hasil akhir investasi. Jadi, berikut simulasi nyata menggunakan modal Rp5 juta di beberapa instrumen yang paling umum dipilih.
Simulasi Deposito Rp5 Juta di Bank BUMN (Bunga 2,5–3%)
Modal Rp5 juta ditempatkan di deposito bank BUMN dengan bunga berkisar 2,50–3,00% per tahun. Berikut hitungannya menggunakan bunga BRI yang tertinggi di 3,00% untuk tenor 1–3 bulan.
Hitungan 3 Bulan, 6 Bulan, dan 12 Bulan
| Tenor | Bunga/Tahun | Bunga Kotor | Pajak 20% | Bunga Bersih | Total Diterima |
|---|---|---|---|---|---|
| 3 Bulan | 3,00% | Rp37.500 | –Rp7.500 | Rp30.000 | Rp5.030.000 |
| 6 Bulan | 2,75% | Rp68.750 | –Rp13.750 | Rp55.000 | Rp5.055.000 |
| 12 Bulan | 2,50% | Rp125.000 | –Rp25.000 | Rp100.000 | Rp5.100.000 |
Simulasi di atas menggunakan data bunga deposito BRI per Februari 2026 yang dipublikasikan cnbcindonesia.com.
Potongan Pajak 20% dan Hasil Bersih
Angka Rp100.000 dari bunga bersih deposito 12 bulan — dengan modal Rp5 juta — artinya return riil hanya sekitar 2% per tahun. Bandingkan dengan inflasi Februari 2026 yang mencapai 4,76% (YoY), artinya daya beli uang justru berkurang meskipun sudah disimpan di deposito.
Jadi, deposito bank BUMN saat ini lebih tepat disebut sebagai “tempat parkir uang yang aman,” bukan instrumen untuk menumbuhkan kekayaan. Pajak 20% yang dipotong langsung dari bunga menjadi faktor utama yang menggerus keuntungan.
Simulasi Reksadana Pasar Uang Rp5 Juta (Return 4–5%)
Reksadana pasar uang (RDPU) menjadi alternatif deposito yang semakin populer. Berdasarkan data Bibit, rata-rata performa RDPU sepanjang 2025 mencapai 4,6%. Bahkan, beberapa produk RDPU unggulan seperti Reksadana Insight Money mencatatkan return hampir 6% per tahun.
| Skenario | Return/Tahun | Keuntungan 12 Bulan | Pajak | Total Diterima |
|---|---|---|---|---|
| RDPU Rata-rata | 4,6% | Rp230.000 | Rp0 | Rp5.230.000 |
| RDPU Terbaik | 5,9% | Rp295.000 | Rp0 | Rp5.295.000 |
Perhatikan kolom pajak: Rp0. Reksadana bebas pajak penghasilan, jadi seluruh return langsung masuk ke kantong investor. Dengan modal yang sama Rp5 juta, RDPU rata-rata menghasilkan Rp230.000 per tahun — lebih dari dua kali lipat bunga bersih deposito BRI tenor 12 bulan yang hanya Rp100.000. Ini bukan opini, tapi hitungan matematika sederhana.
Simulasi Saham Blue Chip Rp5 Juta (Return Historis 8–15%)
Saham memang lebih berisiko, tapi potensi return-nya juga jauh lebih besar. Sepanjang 2025, reksadana saham mencatatkan return hingga 20,84%, meskipun di awal 2026 pergerakan IHSG cenderung lebih stabil.
Simulasi ini menggunakan asumsi konservatif 10% return per tahun untuk saham blue chip LQ45:
| Periode | Capital Gain | Pajak Jual (0,1%) | Estimasi Total |
|---|---|---|---|
| 6 Bulan | Rp250.000 | –Rp5.250 | ~Rp5.244.750 |
| 12 Bulan | Rp500.000 | –Rp5.500 | ~Rp5.494.500 |
“Return saham bersifat fluktuatif dan tidak dijamin. Simulasi ini menggunakan asumsi konservatif berdasarkan kinerja historis, bukan prediksi masa depan. Kerugian (capital loss) juga sangat mungkin terjadi.”
Perlu diingat bahwa saham bisa juga mengalami penurunan. Pada awal 2025, IHSG sempat terkoreksi hingga menyentuh level 5.996. Jadi simulasi ini hanya menggambarkan skenario optimis berdasarkan data historis.
Simulasi Emas Digital Rp5 Juta
Emas adalah instrumen yang unik karena tidak memberikan bunga atau dividen — keuntungannya murni dari kenaikan harga. Per Maret 2026, harga emas Antam berfluktuasi di kisaran Rp3.004.000 hingga Rp3.222.000 per gram.
Sebagai gambaran, jika membeli emas saat harga Rp3.000.000/gram dan menjual saat Rp3.200.000/gram (kenaikan sekitar 6,67%), maka:
- Modal Rp5 juta = sekitar 1,67 gram emas
- Kenaikan 6,67% = keuntungan sekitar Rp333.500
- Total estimasi = Rp5.333.500
“Harga emas sangat dipengaruhi kondisi ekonomi global dan nilai tukar USD/IDR. Angka di atas bukan jaminan keuntungan, melainkan ilustrasi berdasarkan pergerakan harga aktual.”
Keunggulan emas adalah sifatnya sebagai safe haven — nilainya cenderung naik saat kondisi ekonomi tidak stabil. Tapi kelemahannya, emas tidak menghasilkan passive income seperti bunga atau kupon.
Tabel Perbandingan Hasil Semua Simulasi
Berikut rangkuman head-to-head dari semua simulasi di atas dengan modal yang sama yaitu Rp5 juta selama 12 bulan.
| Instrumen | Return Kotor | Pajak | Keuntungan Bersih | Total Akhir |
|---|---|---|---|---|
| Deposito BRI (2,5%) | Rp125.000 | –Rp25.000 | Rp100.000 | Rp5.100.000 |
| RDPU Rata-rata (4,6%) | Rp230.000 | Rp0 | Rp230.000 | Rp5.230.000 |
| ORI029T6 (5,8%) | Rp290.000 | –Rp29.000 | Rp261.000 | Rp5.261.000 |
| Saham Blue Chip (10%)* | Rp500.000 | –Rp5.500 | Rp494.500 | Rp5.494.500 |
| Emas (est. 6,67%)* | ~Rp333.500 | Minimal | ~Rp330.000 | ~Rp5.330.000 |
*Saham dan emas bersifat fluktuatif — angka ini estimasi berdasarkan data historis, bukan jaminan.
Dari tabel di atas, terlihat jelas bahwa deposito bank BUMN berada di posisi paling bawah dari sisi keuntungan bersih. RDPU yang risikonya hampir sama rendahnya justru menghasilkan lebih dari dua kali lipat. Ini bukan berarti deposito tidak berguna — tapi fungsinya memang lebih tepat sebagai tempat parkir dana yang butuh kepastian dan jaminan LPS.
Daftar Bunga Deposito Terbaru dari Bank BUMN dan Bank Digital
Setelah melihat simulasi, sekarang cek langsung data bunga deposito terbaru per awal 2026 untuk membandingkan bank BUMN dengan bank digital.
| Bank | 1 Bulan | 3 Bulan | 6 Bulan | 12 Bulan | Min. Setoran |
|---|---|---|---|---|---|
| Bank BUMN | |||||
| BRI | 3,00% | 3,00% | 2,75% | 2,50% | Rp5 juta |
| BCA | 2,50% | 2,50% | 2,50% | 3,00% | Rp8 juta |
| BNI | 2,25% | 2,25% | 2,75% | 2,50% | Rp5 juta |
| Mandiri | 2,25% | 2,25% | 2,50% | 2,50% | Rp5 juta |
| Bank Digital | |||||
| SeaBank | 4,00% | 5,00% | 5,50% | 6,00% | Rp1 juta |
| Allo Bank | 5,75% | 6,00% | 6,25% | — | Rp1 juta |
| Bank Jago | 5,00% | 5,50% | 6,00% | 6,00% | Rp1 juta |
| Bank Amar | 7,00% | 8,00% | 8,50% | 9,00% | Rp1 juta |
“Suku bunga deposito di atas berdasarkan data per Januari–Februari 2026 dari masing-masing bank dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kebijakan internal bank dan kondisi BI Rate.”
Selisihnya cukup signifikan. Deposito Bank Amar menawarkan hingga 9% per tahun — hampir 4x lipat dari bunga BNI atau Mandiri. Tapi penting dicatat bahwa bunga di atas tingkat bunga penjaminan LPS (3,50%) berarti simpanan tidak dijamin LPS jika bank mengalami masalah.
Rekomendasi Aplikasi Deposito Terbaik 2026
Berikut rekomendasi aplikasi deposito digital yang menawarkan bunga kompetitif dan sudah terdaftar di OJK.
SeaBank
Review: SeaBank menjadi salah satu bank digital paling populer di Indonesia berkat bunga tabungan dan deposito yang kompetitif. Prosesnya serba digital — mulai dari pembukaan rekening hingga penempatan deposito bisa dilakukan langsung dari aplikasi tanpa perlu ke kantor cabang.
Kelebihan:
- Bunga deposito jauh di atas rata-rata bank BUMN
- Minimum deposito rendah (Rp1 juta)
- Gratis transfer antar bank
- Aplikasi user-friendly
Kekurangan:
- Tidak punya kantor cabang fisik
- Bunga bisa berubah sewaktu-waktu
- Fitur perbankan masih terbatas dibanding bank konvensional
Cara Pengajuan Deposito:
- Download aplikasi SeaBank dari Play Store atau App Store
- Daftar akun baru dengan e-KTP dan verifikasi wajah
- Buka menu “Deposito” di halaman utama
- Pilih tenor dan nominal yang diinginkan
- Konfirmasi dan dana otomatis ditempatkan
Allo Bank
Review: Allo Bank menawarkan bunga deposito yang sangat agresif, bahkan untuk tenor 1 bulan saja sudah di angka 5,75%. Sebagai bagian dari CT Corp Group, bank digital ini cukup terpercaya dari sisi korporasi.
Kelebihan:
- Bunga deposito tertinggi di kelasnya untuk tenor pendek
- Tabungan bunga harian fleksibel hingga 6,5%
- Ekosistem CT Corp (Transmart, Blibli)
Kekurangan:
- Belum tersedia tenor 12 bulan
- Fitur investasi belum terintegrasi
- Customer service kadang lambat respons
Cara Pengajuan Deposito:
- Download Allo Bank dari Play Store atau App Store
- Registrasi menggunakan e-KTP dan selfie verifikasi
- Masuk ke menu “Deposito”
- Tentukan nominal, tenor, dan perpanjangan otomatis (ARO)
- Deposito langsung aktif setelah dana didebit
Bank Jago
Review: Bank Jago punya keunggulan unik yaitu fitur “Pocket” untuk mengatur keuangan dan integrasi langsung dengan Bibit (reksadana) serta GoPay. Jadi dalam satu ekosistem, bisa mengelola deposito sekaligus investasi.
Kelebihan:
- Integrasi Bibit untuk investasi reksadana
- Fitur Pocket untuk budgeting otomatis
- Ekosistem Gojek/GoPay
- Bunga kompetitif
Kekurangan:
- Transfer gratis terbatas jumlahnya
- Beberapa fitur memerlukan upgrade akun
- Tidak ada kantor cabang fisik
Cara Pengajuan Deposito:
- Download Bank Jago dari Play Store atau App Store
- Buat akun dengan KTP dan verifikasi biometrik
- Pilih menu “Deposito Jago”
- Atur nominal dan tenor
- Konfirmasi — bunga mulai berjalan otomatis
Rekomendasi Aplikasi Investasi Terdaftar OJK 2026
Selain deposito, berikut aplikasi investasi yang sudah terdaftar dan diawasi OJK, dikelompokkan berdasarkan jenis instrumen yang ditawarkan.
Bibit, Bareksa, dan Ajaib
Tiga aplikasi ini menjadi pemain utama di segmen reksadana dan obligasi/SBN ritel untuk investor pemula hingga menengah.
Bibit
Review: Bibit menjadi aplikasi reksadana paling populer di Indonesia berkat fitur Robo Advisor yang otomatis merekomendasikan portofolio sesuai profil risiko. Tampilannya sangat ramah pemula dan terintegrasi dengan Bank Jago untuk kemudahan top-up.
Kelebihan:
- Robo Advisor untuk rekomendasi otomatis
- Gratis biaya beli reksadana
- SBN dan obligasi tersedia
- Edukasi investasi lengkap
- Integrasi langsung dengan Bank Jago
Kekurangan:
- Pilihan saham terbatas (masih berkembang)
- Fitur analisis teknikal belum secanggih platform sekuritas
- Pencairan reksadana butuh T+1 sampai T+7
Cara Daftar dan Mulai Investasi:
- Download Bibit dari Play Store atau App Store
- Registrasi menggunakan e-KTP dan selfie
- Isi profil risiko (Robo Advisor akan menganalisis)
- Top-up saldo melalui transfer bank atau Bank Jago
- Pilih produk reksadana dan klik “Beli”
- Pencairan bisa dilakukan kapan saja ke rekening terdaftar
Bareksa
Review: Bareksa adalah marketplace reksadana pertama di Indonesia dan menjadi salah satu mitra distribusi SBN ritel terbesar. Pilihan produk reksadananya sangat lengkap dari berbagai manajer investasi.
Kelebihan:
- Pilihan reksadana terlengkap
- Mitra distribusi SBN ritel utama
- Tools perbandingan produk reksadana
- Konten edukasi dan riset berkualitas
Kekurangan:
- UI agak kurang modern dibanding Bibit
- Tidak ada fitur saham
- Loading kadang lambat
Cara Daftar:
- Download Bareksa dari Play Store atau App Store
- Daftar dengan email dan nomor HP
- Verifikasi identitas menggunakan e-KTP
- Top-up saldo investasi
- Pilih produk reksadana atau SBN yang tersedia
Ajaib
Review: Ajaib menjadi pilihan populer untuk investor yang ingin akses ke saham sekaligus reksadana dalam satu aplikasi. Biaya transaksinya kompetitif di 0,15% (beli) dan 0,25% (jual), tanpa deposit awal.
Kelebihan:
- Tanpa deposit awal untuk buka akun saham
- Biaya transaksi kompetitif
- Multi-instrumen (saham + reksadana + obligasi)
- UI modern dan mudah digunakan
Kekurangan:
- Fitur komunitas tidak sekuat Stockbit
- Charting masih dasar untuk trader aktif
- Kadang ada antrian saat pasar sangat volatil
Cara Daftar dan Mulai Investasi:
- Download Ajaib dari Play Store atau App Store
- Registrasi instan menggunakan e-KTP
- Verifikasi identitas (biasanya selesai dalam hitungan menit)
- Top-up RDN (Rekening Dana Nasabah) melalui transfer
- Pilih saham atau reksadana, lalu lakukan transaksi
Stockbit, IPOT, dan Pluang
Tiga platform ini lebih cocok untuk investor yang ingin fitur analisis lebih mendalam dan variasi instrumen yang lebih luas.
Stockbit
Review: Stockbit unggul di fitur komunitas dan analisis. Ada fitur Stream (semacam media sosial investor), screener saham, data fundamental lengkap, dan charting yang mumpuni. Cocok untuk investor yang suka belajar dari komunitas sambil bertransaksi.
Kelebihan:
- Komunitas investor paling aktif di Indonesia
- Screener dan data fundamental gratis
- Fitur virtual trading untuk latihan
- Konten edukasi berkualitas
Kekurangan:
- Fokus utama saham, reksadana terbatas
- Tidak ada fitur SBN langsung
- Fitur charting di mobile belum selengkap desktop
IPOT (Indo Premier)
Review: IPOT menjadi salah satu sekuritas paling lengkap dari sisi variasi instrumen. Dalam satu platform bisa akses saham, reksadana, SBN, dan obligasi korporasi. Fitur automasi order jual-beli juga menjadi nilai tambah.
Kelebihan:
- Instrumen paling lengkap (saham + reksadana + SBN + obligasi)
- Tanpa deposit minimal
- Fitur automasi order
- IPOTFund untuk reksadana
Kekurangan:
- Biaya transaksi sedikit lebih tinggi dari Ajaib/Stockbit
- UI kurang modern
- Learning curve lebih curam untuk pemula
Pluang
Review: Pluang menawarkan diversifikasi paling luas — mulai dari emas digital, reksadana, saham AS, crypto, hingga indeks global, semuanya dalam satu aplikasi. Cocok untuk investor yang ingin portofolio terdiversifikasi tanpa harus punya banyak akun di berbagai platform.
Kelebihan:
- Akses multi-aset terlengkap dalam satu app
- Micro investing mulai Rp10.000
- Bisa investasi saham AS
Kekurangan:
- Spread emas dan crypto agak lebih lebar
- Tidak ada fitur saham Indonesia (BEI)
- Customer support terbatas
Reku dan Pintu untuk Aset Kripto
Bagi yang tertarik dengan aset kripto, dua platform ini sudah masuk whitelist OJK sebagai penyelenggara perdagangan aset kripto berizin.
Reku
Review: Reku dikenal dengan biaya transaksi yang transparan dan fitur analisis portofolio yang mendalam. Di 2026, Reku juga menambahkan akses ke saham AS, menjadikannya platform multi-aset untuk investor muda.
Kelebihan:
- Biaya transaksi rendah dan transparan
- 350+ aset kripto tersedia
- Fitur DCA (Dollar Cost Averaging) otomatis
- Analisis portofolio detail
Kekurangan:
- Tidak ada fitur futures/margin
- Saham AS masih terbatas pilihan
- Proses KYC kadang butuh waktu
Cara Daftar dan Mulai Trading:
- Download Reku dari Play Store atau App Store
- Daftar dengan email dan nomor HP
- Lengkapi KYC (KTP + selfie)
- Deposit rupiah melalui transfer bank
- Pilih aset kripto dan klik “Beli”
- Withdraw bisa ke rekening bank atau wallet crypto
Pintu
Review: Pintu menjadi salah satu platform crypto paling ramah pemula di Indonesia. Tanpa biaya trading (keuntungan dari spread), UI sangat sederhana, dan konten edukasi Pintu Academy sangat membantu pengguna baru memahami dunia kripto.
Kelebihan:
- Tanpa biaya trading eksplisit
- 800+ aset kripto tersedia
- PTU Earn untuk staking reward
- Pintu Academy (edukasi lengkap)
- UI paling simpel untuk pemula
Kekurangan:
- Spread lebih lebar sebagai pengganti biaya trading
- Tidak ada fitur trading lanjutan (order book)
- Withdraw kripto ke wallet eksternal terbatas
Cara Daftar dan Mulai Trading:
- Download Pintu dari Play Store atau App Store
- Registrasi menggunakan nomor HP
- Verifikasi KYC (KTP + selfie)
- Deposit rupiah via transfer bank
- Pilih aset kripto dan klik “Beli”
- Withdraw ke rekening bank yang sudah terverifikasi
Tips Menentukan Porsi Deposito dan Investasi Sesuai Profil Risiko
Pertanyaan yang sering muncul: berapa persen uang yang harus disimpan di deposito, dan berapa persen yang diinvestasikan? Jawabannya tergantung profil risiko masing-masing.
Berikut formula alokasi yang umum digunakan oleh perencana keuangan:
| Profil Risiko | Deposito/RDPU | Obligasi/SBN | Saham | Emas | Crypto |
|---|---|---|---|---|---|
| Konservatif | 50–60% | 20–30% | 10% | 5–10% | 0% |
| Moderat | 30% | 20% | 30% | 15% | 5% |
| Agresif | 10–15% | 10% | 40–50% | 10% | 10–15% |
Tabel di atas bersifat panduan umum. Alokasi ideal juga dipengaruhi oleh usia, jumlah tanggungan, dan tujuan keuangan spesifik.
Beberapa prinsip dasar yang perlu dipegang:
- Dana darurat (3–6 bulan pengeluaran) → simpan di deposito atau RDPU, jangan di saham
- Dana pendidikan anak 5+ tahun → campuran obligasi dan reksadana campuran
- Dana pensiun 10+ tahun → boleh agresif di saham blue chip
- Uang belanja bulanan → jangan diinvestasikan
Untuk membeli SBN ritel seperti ORI029, prosesnya bisa dilakukan melalui mitra distribusi resmi. Salah satunya melalui Maybank Digital Banking yang menyediakan akses pembelian ORI029 langsung dari aplikasi M2U ID.
Waspada Penipuan Investasi dan Kontak Layanan Resmi
Meningkatnya minat investasi sayangnya juga diikuti oleh maraknya penipuan berkedok investasi. Beberapa modus yang masih banyak beredar di 2026:
- Investasi bodong yang menjanjikan return tetap 10–20% per bulan (bukan per tahun)
- Robot trading yang mengklaim profit otomatis tanpa risiko
- Akun palsu yang mengatasnamakan sekuritas resmi di media sosial
- Grup Telegram/WhatsApp yang menjual sinyal trading “pasti profit”
Prinsipnya sederhana: jika sebuah tawaran investasi terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, kemungkinan besar memang bukan kenyataan. Sebelum menyetorkan dana ke platform manapun, selalu cek legalitasnya di situs resmi OJK.
Berikut kontak layanan resmi untuk pengaduan dan pengecekan:
| Lembaga | Kontak | Fungsi |
|---|---|---|
| OJK | Telepon: 157 (24 jam) WhatsApp: 081-157-157-157 Email: [email protected] | Pengaduan konsumen, cek legalitas investasi |
| LPS | Website: lps.go.id Telepon: (021) 515-1000 | Klaim penjaminan simpanan, info TBP |
| Bank Indonesia | Telepon: 131 Website: bi.go.id | Info BI Rate, kebijakan moneter |
| Satgas Waspada Investasi | Website: ojk.go.id (SWI) Telepon: 157 | Pengecekan investasi ilegal/bodong |
Jika menemukan tawaran investasi mencurigakan, jangan ragu untuk langsung melapor ke Kontak OJK 157. Layanan ini tersedia 24 jam dan bisa diakses lewat telepon, WhatsApp, maupun email.
Penutup
Tidak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan “deposito atau investasi, mana yang lebih baik.” Keduanya punya peran yang berbeda dalam perencanaan keuangan. Deposito cocok untuk dana darurat dan kebutuhan jangka pendek yang butuh kepastian. Investasi — baik reksadana, saham, obligasi, maupun emas — lebih tepat untuk menumbuhkan kekayaan jangka menengah hingga panjang.
Dari simulasi yang sudah dibahas, modal Rp5 juta di deposito bank BUMN hanya menghasilkan Rp100.000 bersih per tahun, sementara RDPU bisa memberikan Rp230.000 dan saham blue chip berpotensi Rp494.500. Angka-angka ini bukan berarti harus meninggalkan deposito sepenuhnya, tapi memahami bahwa setiap instrumen punya fungsi dan risikonya masing-masing.
Semua data dalam artikel ini bersifat informatif dan disusun berdasarkan informasi resmi dari Bank Indonesia, OJK, LPS, dan BPS per Maret 2026. Suku bunga, return investasi, dan kebijakan regulator dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi ekonomi terkini. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi — lakukan riset mandiri dan pertimbangkan kondisi finansial masing-masing sebelum memutuskan.
Terima kasih sudah membaca panduan ini sampai akhir. Semoga informasinya bermanfaat dan bisa menjadi langkah awal menuju pengelolaan keuangan yang lebih cerdas di tahun 2026. Jika ada pertanyaan atau ingin diskusi lebih lanjut, jangan ragu untuk bergabung di komunitas atau share artikel ini ke orang-orang terdekat yang mungkin membutuhkan informasi serupa.
FAQ
Jurnalis muda dan content writer finansial dari Bandar Lampung. Lulusan S1 Manajemen Universitas Lampung, fokus meliput pinjaman online, paylater, dan literasi keuangan digital untuk Investlampung.id.





